Kalender Liturgi

Rabu, 18 Juni 2014

Kisah Kita di Kaki Uyelewun



 Hoelea. Sebuah desa di kaki gunung Uyelewun, Lembata. Ditempuh selama empat jam perjalanan dengan kendaraan darat dari kota Lewoleba. Sebelum jalan trans Lembata dibuka seperti kondisi sekarang, waktu tempuh jalur sepanjang enam puluh kilometer ke arah timur ini bahkan dua kali lipat: delapan jam. Kondisi jalan yang buruk adalah penyebabnya.
Tempat ini menjadi pilihan bagi sekelompok muda-mudi  yang hendak menjalin kisah bersama. Meski terpisah jarak yang cukup jauh, namun selama lima hari sejak Jumad (13/6) hingga Selasa (17/6) kemarin, teman-teman kita Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Kristus Raja Waiwerang mendatangi tempat ini. Kunjungan pertama untuk sahabat-sahabat mereka di paroki Salib Suci Hoelea, Kedang, Dekenat Lembata.
Gambar: 4.bp.blogspot.com

Apa kisah mereka boleh menjadi kisah kita juga? Mari simak satu-satu.

Kamis (12/6) petang di Waiwerang. Peserta dari stasi pun tiba. Bloto, Lamakukung, dan Kampung Baru. Yang dari stasi pusat sudah menunggu. Setelah istirahat dan snack, mereka beranjak menuju balkon. Latihan koor gabungan yang kedua. Usai latihan, peserta dari stasi pusat yang sudah ditunjuk mengajak peserta untuk menginap di rumah masing-masing. Bersiap-siap untuk berangkat keesokan harinya.
Jumad (13/6) pagi. KM. Trisakti lepas jangkar tepat jam 08.00. Setelah mengucapkan selamat tinggal pelabuhan Waiwerang, delapan jam kemudian riuh suara gong gendang pun menyambut OMK Waiwerang di depan gerbang masuk Hoelea. Kelelahan sepanjang perjalanan laut maupun darat serasa hilang dihapus wajah ramah muda-mudi Hoelea serta umat yang ikut menjemput. Kebersamaan pun dimulai.


Apa saja yang mereka lakukan?

Bakti Sosial
Itu terjadi pada hari kedua, Sabtu (14/6). Peserta berdatangan dari keluarga-keluarga tempat live in masing-masing menuju bagian belakang komplek gereja Salib Suci. Di sana, ada tumpukan pasir dan batu yang siap dipindahkan untuk mengurug fondasi gereja baru yang sedang dibuat.
Dengan sekop, karung dan ember, sekitar seratus orang muda itu membaur membentuk barisan untuk memindahkan pasir dan batu itu menuju tumpukan. Minuman segar pun disiapkan. Peserta jadi lebih cepat haus karena matahari makin meninggi dari balik bukit.
Usai kerjabakti, eh spontan ada ide untuk foto bareng. Peserta pun membentuk kelompok. Bukan. Bukan kelompok menurut stasi atau paroki masing-masing. Tapi menurut warna baju. Padahal mereka berpakaian bebas lho!
Eitz, hampir lupa. Kerjabakti tidak hanya sekali ini. Minggu siang, sekali lagi peserta bergerak mempersiapkan halaman tempat konser di lapangan umum Hoelea II. Di sana, mereka keroyokan mempersiapkan panggung konser dan pagar penutup di sekeliling lokasi.

Pertandingan Persahabatan.
Pertadingan voli berlangsung Sabtu sore setelah kerjabakti. Bertempat di lapangan voli umum di sebelah timur desa Hoelea II. Meski bukan pertandingan kejuaraan, empat keenaman baik putra maupun putri masing-masing nongol dengan kostum lengkap. Ini pasti ulahnya seksi minat dan bakat hehe.
Sementara itu, bung komentator pas pertandingan tak henti-hentinya bersuara dari megaphone sambil membuka line SMS dadakan untuk kirim-kirim salam kepada atlet-atlet OMK maupun antar suporter.

Pentas Seni Budaya
Pentas seni budaya berlansung tepat pada acara perpisahan. Dari Waiwerang, peserta telah mempersiapkan sejumlah acara. Di antaranya adalah tari hedung dan juga tari dana-dana diiringi alat musik gambus ala etnis Lamaholot. Tak ketinggalan pula OMK Hoelea yang tampil dengan kesenian khas ala etnis Kedang.

Liturgi dan Sharing
Liturgi dimulai dengan perarakan salib OMK Hoelea saat penjemputan dari gerbang masuk Hoelea menuju gereja Salib Suci. Selanjutnya, misa perayaan pesta Tritunggal Mahakudus ditanggung sepenuhnya oleh OMK. Untuk persiapan, latihan koor pun mesti sekali lagi dilakukan oleh OMK Waiwerang. Persembahan koor menjadikan missa di pusat paroki Hoelea saat itu berlangsung semarak.
Foto: Yenny
 OMK Waiwerang dan OMK Hoelea sedang pose bersama
Sementara kegiatan sharing berlangsung malam Minggu di masing-masing KBG. Ternyata peserta sharing tak hanya dari stasi pusat, tetapi juga dari OMK stasi lain yang tersebar di paroki yang terletak di kaki gunung Uyelewun ini. Kegiatan diatur oleh masing-masing KBG. Di sejumlah KBG, sharing langsung dilanjutkan dengan santap malam bersama umat dan OMK. Ini utuk mengantisipasi sebab pada saat perpisahan nanti, dipastikan tidak semua umat dari KBG akan hadir.

Konser Amal Bersama Fajar Band.
Bagi yang belum tau, iring-iringan kedaraan dari pelabuhan Lewoleba ke Hoelea kemarin salah satunya adalah dump truck ‘Dua Putra’ yang dipenuhi peralatan perlengkapan konser. Penjualan tiket konser amal ini sudah jauh-jauh hari dilakukan oleh OMK Hoelea dalam rangka menggalang dana pembangunan gereja paroki Salib Suci.
Dan pada Minggu (15/6) malam, vokal Edy Lasaren memecah kesunyian Hoelea. Ratusan penonton dan penggemar Fajar Band memadati lapangan. Tampil juga Popy, biduanita dari Maumere sebagai bintang tamu. Konser dipandu dengan apik oleh host Laus (OMK Waiwerang) dan Victoria (OMK Hoelea)

Apa Kata Mereka?
“Terimakasih untuk umat paroki Hoelea yang selama lima hari telah mengasuh kami sebagai bagian dari keluarga” (salah satu peserta kunjungan)
“Di tempat ini, kami hidup berdampingan dengan umat dari keyakinan lain”. (Sekretaris KBG Bukit Zaitun, stasi pusat paroki Hoelea dalam sharing bersama OMK. Di Hoelea, umat Kristiani hidup berdamingan dengan umat Islam)
“Meski kehadiran peserta tidak sesuai dengan kesepakatan pada pertemuan terakhir, peserta harus tetap semangat”. (Ketua seksi KKM dalam sembutan peneguhan di depan gereja Kristus Raja. Adapun kehadiran peserta yang semula ditargetkan berjumlah enam puluhan jadi merosot jumlahnya karena kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang diikuti sejumlah OMK)
“Yesus sendiri yang mempertemukan orang-orang muda di sini”. (Romo Ben selaku moderator OMK Waiwerang saat ibadat penyambutan di Hoelea. Menurutnya, kunjungan ini dilakukan dalam rangka mengantar kembali salib OMK Hoelea yang ‘dititipkan’ di gereja Kristus Raja saat temu akbar OMK Larantuka Oktober 2013 lalu. OMK Hoelea ingin agar salib itu diantar kembali OMK Waiwerang dalam kunjungan balasan)
“Kita bersatu karena berbeda” (Romo Andy Fernandez selaku moderator OMK Hoelea dalam renungan missa pesta Tritunggal Mahakudus)
“Orang muda juga mampu berbuat sesuatu untuk gereja” (Camat Omesuri dalam sambutannya saat membuka konser amal yang digagas dan diorganisir oleh OMK) (Simpet)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar